Toleransi Kian Tergerus

0
Ilustrasi: Istimewa
- Advertisement -Otohits.net, fast and efficient autosurf

WartaMaya.Id, (Opini) – Baru-Baru ini pernyataan seorang pengacara kondang membuat dunia nyata dan dunia maya di nusantara ini. Bagaimana tidak, pernyataan sangat absurd, yaitu mengatakan bahwa diluar islam, agama-agama yang ada di Indonesia (Kristen, Hindu, Budha), dia katakana bertentangan dengan Pancasila. Ini merupakan pernyataan yang sangat berbahaya dan bisa memecah belah anak bangsa. Apapun alasannya, pernyataan demikian tidak layak untuk dilontarkan. Pernyataan demikian sungguh sangat menyakitkan, menyayat nurani dan dipertontonkan, maka disintegrasi bangsa sudah di depan mata.

Kita sudah melihat bagaimana dampak intoleransi yang pernah terjadi di negeri ini. Dampaknya tidak hanya merenggut harta benda, namun merenggut nyawa sekaligus. Misalnya, kasus Ambon, Kasus Poso, Kasus Tolikara, dan Kasus Aceh Singkil. Sepertinya, kita sebagai sebuah bangsa, belum puas dan kapok dengan dampak yang dihasilkan dari intoleransi tersebut. Betapa mudahnya kita terprovokasi oleh isu-isu SARA ( Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).

Dalam alam demokrasi, ruang untuk toleransi harus lapang, tidak boleh sempit dan picik. Jika toleransi sempit, maka akan terjadi penyumbatan didalam sirkulasi pembuluh darah demokrasi tersebut. Jika penyumbatan itu dibiarkan secara terus menerus, maka pembuluh darahnya bisa pecah dan demokrasi kita bisa “stroke”, lumpuh dan timpang. Jika dibiarkan terus menerus seperti itu, tidak kunjung disembukan atau dipulihkan, maka ajal demokrasi akan tiba.

- Advertisement -
loading...

Apakah kita mau membiarkan demokrasi kita punah? Tentunya tidak. Kita bangsa yang besar, luas, beraneka ragam Bahasa, suku, budaya. Semua keanekagaraman itu akan terpelihara dengan baik dan utuh, jika kita mampu memupuk dan mempertahankan peluang untuk tidak dapat melihat keanekaragaman, yaitu perbedaan agama, suku maupun ras yang ada untuk hidup saling berdampingan.

Baca Juga :  All New Honda CB150 Verza Tampil Dengan Konsep Tangguh

Toleransi itu harus kita bangun dalam wacana dan tindakan nyata. Tidak sekedar basa basi atau wacana. Tidak hanya sekedar tertulis indah di UUD 1945. Toleransi itu harus kita wujudkan menjadi nyata, terbukti dan terukur. Buktikan bahwa kita memiliki ruang toleransi yang luas di alam demokrasi kita ini, yaitu dengan cara siapa saja warga negara Indonesia yang mumpuni boleh menjadi pemimpin. Tidak perduli apa agamanya, sukunya atau golongannya darimana. Semuanya harus punya kesempatan untuk memimpin. Tidak perlulah meributkan apa agamanya seperti yang sudah dipertontonkan saat Pilkada DKI 2017 lalu.

Bukti lain bahwa kita memiliki ruang toleransi yang luas adalah harus ada kebebasan umat beragama untuk beribadah. Jangan ada yang mempersulit pendirian rumah ibadah. Agama apapun itu. Semua harus memiliki kebebasan untuk memuji Tuhannya, Jangan diganggu, Jangan ditindas. Itulah buktinya bahwa kita memiliki toleransi.

Ashiong P. Munthe
Dosen FIP Universitas Pelita Harapan
Email: apmunthe@gmail.com

- Advertisement -