Pertumbuhan Ekonomi 2020, Rizal Ramli Prediksi Hanya Capai 4 Persen

0
Mantan Menteri Ekuin Rizal Ramli (kanan) dalam diskusi Poros Wartawan Jakarta bertema Prediksi Ekonomi RI tahun 2020.
- Advertisement -Best Domain & Hosting!

Wartamaya.Id, Jakarta- Pengamat ekonomi Rizal Ramli memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 tidak akan mencapai target seperti yang diproyeksikan tim ekonomi pemerintah, yakni, sebesar 5,3%. Bahkan, menurut mantan anggota Tim Panel Ekonomi PBB itu pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 bisa turun drastis hingga 4%.

“Saya prediksi tahun depan akan lebih jelek dari tahun ini. Pertumbuhan ekonomi hanya 4%. Sederhana saja, sekarang ini pertumbuhan kredit hanya 7%. Kalau pertumbuhan ekonominya mau naik ke 6% saja, pertumbuhan kreditnya harus 15% sampai 17%. Bagaimana mau mendorong ekonomi lebih hebat kalau pertumbuhan kreditnya hanya segitu, belum lagi daya beli rakyat yang menurun,” ujar mantan Menko Ekuin era pemerintahan Abdurrahman Wahid dalam diskusi Poros Wartawan Jakarta, hari ini (20/12).

Prediksi Rizal Ramli tersebut juga didasarkan pada indikator makro yang cenderung semakin merosot hingga Kuarta III-2019, antara lain, kondisi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) sebesar US$ 7,6 miliar. Begitu juga dengan neraca perdagangan yang mengalami defisit US$ 3,12 miliar.

- Advertisement -
loading...

“Kondisi ini diprediksi akan terus berlanjut sampai tahun depan,” ungkap Rizal Ramli.

Rizal Ramli juga mmenambahkan, saat ini sekitar 24% perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) termasuk kategori zombie company. Maksudnya adalah perusahaan yang masih berjalan, tetapi tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk membayar utang. Perusahaan tersebut hanya bisa bertahan apabila dilakukan restrukturisasi kredit.

“Tahun depan, saya prediksi zombie company akan mencapai sepertiga dari seluruh perusahaan yang ada di BEI,” tutur Rizal.

Bila tak ingin mengalami krisis ekonomi, pemerintah menurutnya harus mampu membalikkan kondisi yang terjadi saat ini. Sayangnya Rizal melihat selama ini pemerintah menggunakan kebijakan makro ekonomi yang super konservatif, yaitu austerity atau pengetatan.

“Rumus IMF dan Bank Dunia yang dilakukan ini puluhan kali sudah gagal dijalankan di Amerika Latin, di Yunani. Kalau kondisi ekonominya sedang melambat, kemudian dilakukan pengetatan, diuber pajaknya, ya makin nyungsep (kondisi ekonomi),” kata Rizal.

Sebaliknya, yang harus dilakukan pemerintah menurut Rizal adalah dengan mendorong daya beli kelompok menengah ke bawah.

Di kesempatan terpisah, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati optimistis kinerja pertumbuhan ekonomi yang sempat melambat akan kembali positif pada 2020 seiring dengan membaiknya beberapa jenis pajak yang mulai tumbuh positif.

“Optimisme menunjukkan perbaikan ke arah positif sehingga kita harap rebound ini akan diteruskan ke Desember sehingga memberikan akselerasi untuk bisa kita jaga pada 2020,” katanya di Kantor Kementerian Keuangan, (19/12/2019).

Ia menyebutkan salah satu komponen yang menunjukkan perbaikan adalah Pajak Penghasilan (PPh) 21 yakni sempat mengalami kontraksi pada kuartal III-2019 hingga 0,82 persen dan mampu kembali tumbuh 10,42 persen pada Oktober serta 19,60 persen hingga November.

Menurut dia, adanya perbaikan pada berbagai jenis pajak tersebut menandakan terdapat langkah awal menuju rebound atau pembalikan yang cukup konsisten di tengah kondisi perlambatan ekonomi global.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here