Antara Zionisme, Aliyah Dan Natal

0
Peziarah Kristen Melintas Di Yerusalem. Foto; Monique Rijkers.
- Advertisement -Best Domain & Hosting!

WartaMaya.Id, – Antara Zionisme, Aliyah & Natal (berdasarkan perspektif Kristen Protestan). Pasca pengumuman pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem yang disampaikan Presiden Donald Trump, dunia riuh memberikan tanggapan. Gejolak ini bisa dimaklumi karena ketidaktahuan banyak orang tentang keterkaitan antara Yerusalem dan bangsa Israel. Dengan mudah, orang lantas mengaitkan pada zionisme dan kembali mempersoalkan lahirnya Israel sebagai negara. Karena topik ini sangat hangat dibicarakan di Indonesia, bukan saja di kalangan pro-Israel atau pro-Palestina tetapi juga menimbulkan perbedaan pendapat di antara kalangan Kristen sendiri. Dikotomi dalam memaknai status Yerusalem, khususnya dan Israel secara umum tentu menarik dicermati dan dapat menambah khazanah pengetahuan bagi non-Kristen sebagai mayoritas di Indonesia.

Jika mengulas tentang Israel, maka ada satu kata yang sering mencuat yakni zionisme yang bisa dimaknai sebagai kembalinya diaspora bangsa Yahudi ke Tanah Perjanjian. Zionisme digagas oleh Theodor Herzl, seorang wartawan berdarah Yahudi tetapi beragama Kristen Protestan dan belakangan memeluk Yudaisme. Herzl terkenal dengan slogannya, “If you will it, it is no dream”. Dalam buku yang diterbitkan pada tahun 1896 yang berjudul “Negara Yahudi atau Der Judenstaat”, Herzl berusaha mencari solusi bagi bangsa Yahudi yang hidup di negara-negara Eropa di masa itu yang mengalami persekusi akibat sikap anti-semitisme (saat ini dimaknai sebagai anti terhadap orang Yahudi). Solusi yang digagas Herzl adalah memilih sebuah wilayah yang bisa didiami dan menjalankan hukum Yahudi. Sebenarnya ide Herzl yang dituang dalam buku bukan hal baru. Malah boleh dibilang sangat terlambat dibandingkan apa yang ditulis dalam Kitab Suci umat Yahudi dan Kristen. Di dalam Kitab Suci, dengan mudah kita akan menemukan ayat-ayat suci tentang “kembali ke Sion” atau aliyah. Aliyah adalah kata dalam Bahasa Ibrani yang bermakna “naik ke atas”. Maksud “naik ke atas” ini adalah naik ke Bukit Sion atau Zion (dalam Bahasa Inggris) yang terletak di Yerusalem. Secara singkat aliyah adalah kembali ke Sion atau kembali ke Yerusalem sehingga aliyah bisa diasumsikan sebagai bahasa teologi dari zionisme. Tanpa disadari, Herzl mewujudkan aliyah yang sudah dinubuatkan (prophecy).

Herzl kemudian mengumpulkan 200 orang Yahudi dari 70 negara untuk bertemu di Basel, Swiss pada 1897, inilah Kongres Zionis pertama. Baru pada 1903 Kongres Zionis kedua menentukan pilihan untuk kembali ke Sion, kembali ke Tanah Perjanjian. Menurut sejarah bangsa Israel, Tanah Perjanjian sudah dijanjikan kepada nenek moyang mereka yaitu Abraham, Ishak dan Yakub serta dilanjutkan kepada Nabi Musa yang membawa bani Israel eksodus dari Mesir. Pengganti Nabi Musa yakni Yosua, bertugas membagi-bagikan Tanah Perjanjian bagi 12 suku Israel. Lokasi Tanah Perjanjian berada di wilayah Kanaan, bukanlah sebuah tanah kosong namun didiami tujuh kerajaan yang semuanya harus ditaklukkan oleh Yosua. Setelah berhasil menguasai Kanaan, bangsa Israel berproses menjadi kerajaan. Jika berbicara kerajaan, artinya berbicara mengenai wilayah dan rakyat yang diperintah. Tanpa wilayah tentu tidak bisa disebut kerajaan dan tanpa rakyat tentu tidak valid menjadi pemimpin (raja).

- Advertisement -
loading...

Sejarah bangsa Israel mencatat raja pertama adalah Saul, raja kedua adalah Daud dan ketiga adalah Salomo. Daud dan Salomo adalah dua raja penting Kerajaan Israel karena Raja Daud membangun dan memerintah di Yerusalem selama 33 tahun sedangkan Raja Salomo membangun Bait Suci (Temple Mount) yang kemudian dihancurkan oleh Nebukadnezar, Raja Babilonia pada 586 SM dan dibangun kembali oleh Koresh, Raja Persia pada 539 SM. Raja Koresh memulangkan bangsa Israel dari pembuangan
di Persia, kembali ke Yerusalem untuk mendirikan Bait Suci. Namun Bait Suci itu dihancurkan oleh Titus dari Kerajaan Romawi pada 70 Masehi. Kehadiran penjajahan bangsa lain di wilayah pemerintahan Israel menunjukkan eksistensi Israel. Bait Suci sebagai pusat ibadah Yahudi menunjukkan entitas Yudaisme sebagai sebuah otoritas keagamaan adalah fakta berabad-abad.

Sesungguhnya yang menarik dari ide kembali ke Sion (aliyah) adalah kenapa harus ke Sion? Apakah karena Bukit Sion terletak di Yerusalem? Kenapa bukan ke Gaza yang juga terletak di wilayah Israel dan dulu adalah kota milik suku Yehuda (Kitab Yosua 15:47)? Tentu saja kita harus kembali ke Kitab Suci untuk menemukan jawaban mengapa Sion atau Yerusalem sebagai sebuah lokasi khusus yang disebutkan secara spesifik. Tak kurang dari 600 ayat memuat kata Yerusalem dan sekitar 20 ayat merujuk pada alasan TUHAN memilih Yerusalem sebagai sebuah tempat khusus. Salah satu ayat penting aliyah muncul di Kitab Nabi Zakharia 12:10 yang menyebut Yerusalem sebagai lokasi pencurahan Roh Kudus bagi orang Yahudi pada akhir zaman.  Saat itulah orang Yahudi akan melihat Mesias sehingga keberadaan Yerusalem menjadi signifikan karena berkaitan dengan kedatangan Yesus yang kedua kali. Berkat narasi Kitab Suci maka Yerusalem dipandang secara khusus dan memiliki keistimewaan.

Namun sebelum aliyah, terjadi diaspora orang Yahudi dari Yerusalem akibat penjajahan dan penaklukkan berulang-ulang. Berbagai bangsa pernah menjajah Yerusalem, sebut saja Babilonia, Persia, Romawi, Umar bin Khattab, Ottoman, Perang Salib hingga pembagian wilayah yang ditentukan oleh Inggris. Namun Kitab Suci mencantumkan janji bahwa meski TUHAN telah menyerakkan bangsa Yahudi ke antara bangsa-bangsa, ke tempat-tempat yang jauh, namun mereka akan kembali (Kitab Zakharia 8:7-8, 10:8-9). Dunia menyaksikan penggenapan Kitab Zakharia 2:6 dan Kitab Nabi Yeremia 23:8 ketika orang Yahudi dari Rusia berbondong-bondong mudik ke Israel atau aliyah. Bagaimana bisa diketahui pasti dari Rusia? Sebab pada kedua ayat itu ditulis “dari utara”, Rusia secara geografis memang terletak di utara Yerusalem.

Dengan demikian aliyah bukanlah sekadar gagasan seorang Theodor Herzl yang berkaitan dengan Holokaus, seperti yang dituding banyak orang. Justru sebaliknya, aliyah sudah diyakini akan terjadi ke lokasi tempat di mana Israel sekarang berada. Sebab itulah Israel adalah sentral eskatologi (ilmu tentang akhir zaman) karena keberadaan Israel adalah syarat mutlak kepulangan orang Yahudi, kepulangan orang Yahudi berarti akhir zaman sudah di ambang pintu. Keberadaan Israel sebagai negara  pada 1948 setelah mengalahkan Mesir, Yordania, Suriah, Lebanon dan Irak serta kembalinya Yerusalem bagian timur sebagai wilayah milik Israel pada tahun 1967 dari tangan Yordania (bukan Palestina) setelah Perang Enam Hari semakin meneguhkan status Israel.

Atas dasar inilah bangsa Israel sangat posesif terhadap Yerusalem. Lalu bagaimana sikap orang Kristen? Mengacu pada teologi Kristen, Yerusalem berkaitan erat dengan kehidupan Yesus. Tertera di Kitab Suci, Yesus bersama keluarganya datang merayakan Paskah dan Hari Raya Yahudi lainnya. Bagi umat Kristen, di kota inilah Yesus menggenapi segala sesuatu yang dinubuatkan oleh para nabi terutama dalam hal kelahiran, penyaliban, kematian, kebangkitan, kenaikan ke surga dan turunnya Roh Kudus.

Pasca Yesus terangkat ke surga, kekristenan berawal dari Yerusalem. Sejarah awal kekristenan mencantumkan Yakobus, saudara Yesus sebagai Kepala Gereja pertama di Yerusalem. Rasul Paulus yang saat itu menginjil di wilayah Turki bahkan mengantar sendiri bantuan untuk orang-orang kudus yang ada di Yerusalem (Roma 15:25) dan Rasul Paulus meluangkan waktu beribadah di Yerusalem (Kisah Para Rasul 24:11). Atas dasar ini
sesungguhnya pasca Yesus, umat Kristen tetap berkaitan dengan Yerusalem. Selain Yerusalem, sejumlah kota di Israel berkaitan erat dengan kisah-kisah dalam Kitab Suci. Contohnya Betlehem, kota kelahiran Yesus dan Raja Daud, Hebron adalah kota tempat Daud dilantik sebagai Raja Israel serta Yerikho, kota pertama yang dimasuki bani Israel di bawah kepemimpinan Yosua. Kota-kota itu kini sudah diserahkan oleh Israel kepada Palestina demi perdamaian. Meski kota-kota itu bukan lagi di bawah kekuasaan Israel, fakta historis tentu tak tergantikan.

Karena beberapa kota sudah hilang, bangsa Israel demikian posesif terhadap Yerusalem yang merupakan kota warisan bagi suku Benyamin (adik Yusuf, anak Yakub). Bagi kekristenan, Yerusalem yang dibangun Raja Daud menjadi lokus penting akhir zaman, tempat Mesias akan datang kedua kali. Nubuatan kedatangan pertama sudah terjadi di Betlehem 2000 tahun lalu, momen yang selalu dirayakan saban tahun dengan sukacita. Natal menjadi penting karena mengingatkan kita, nubuatan kedatangan kedua akan terjadi. Selamat Natal.

Monique Rijkers,

Penulis merupakan pendiri Hadassah of Indonesia, yayasan nirlaba yang fokus pada edukasi keberagaman.

- Advertisement -