Anak Saya Kerap Melakukan Bullying di Sekolah, Apa Solusinya?

0
Broer Ivan (kiri). Foto: Istimewa
- Advertisement -Best Domain & Hosting!

Broer Ivan yang baik hati,

Apa kabar, Broer? Broer, dalam kurun waktu satu tahun terakhir saya mendapatkan penugasan di luar kota. Dalam menjalankan tugas Negara, saya bertanggung jawab untuk memberi rasa aman bagi banyak orang di daerah penugasan. Untuk urusan mendidik anak saya percayakan kepada istri di rumah, dan sepertinya istri saya tidak mendapatkan kesulitan yang cukup berarti saat menjalankan perannya. Sebagai pengobat rindu, saya secara rutin menghubungi istri dan anak-anak saya sehari sekali. Tetapi saya kerap mendapatkan laporan dari istri bahwa putra kedua kami yang baru berusia 10 tahun kerap melakukan kenakalan-kenakalan di sekolah, bahkan sering melakukan tindakan kasar (bullying) kepada teman maupun kakak kelasnya. Di sekolah, anak saya memang dikenal sebagai leader, dalam artian ditakuti. Saya memang mendidik anak-anak saya dengan dispilin tinggi, juga menanamkan di dalam benak mereka untuk jangan pernah merasa takut dengan apapun. Tapi sepertinya masih ada kekurangan di dalam cara saya mendidik. Bisakah Broer membantu kami untuk mencarikan solusi atas keadaan ini?

Terima kasih.

- Advertisement -
loading...

Mario (37)- Flores, Nusa Tenggara Timur

Yang terkasih bapak Mario di Nusa Tenggara Timur, kiranya damai sejahtera selalu beserta anda dan keluarga.

Menarik sekali dengan apa yang bapak Mario lakukan dalam hal mendidik anak. Memang anak juga harus mendapatkan sentuhan ayah dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Karakter seorang lelaki diperlukan dalam mendidik putra dan putri kita. Kaum lelaki selalu digambarkan sebagai sosok yang berani, berpikir cerdas, pengambil keputusan, berjiwa pemimipin, pelindung maupun penolong, dan masih banyak lagi. Misal, seorang anak lelaki tidak akan bermain boneka, anak lelaki harus berani dan tidak kenal takut ketika berada dalam ruangan yang gelap. Menyenangkan sekali memiliki anak lelaki dalam suatu keluarga, tentu hal itu akan menjadi pelengkap kebahagian Anda selaku orang tua. Di Indonesia sendiri banyak suku yang mengidolakan kehadiran anak lelaki, dikarenakan anak lelaki akan mewarisi marga atau garis keturunan sang Ayah, semisal suku Batak, Ambon, Minahasa, begitupun suku-suku yang mendiami wilayah Nusa Tenggara Timur.
Saya ingin menjelaskan beberapa pedoman dalam mendidik anak–anak, yang menjadi kewajiban dari seorang Ayah.

  1. Dekat dengan Anak-anak
    Kelemahan seorang lelaki dewasa atau Ayah adalah terlalu menggantungkan pendidikan budi pekerti maupun pembentukan karakter kepada istri di rumah. Kaum lelaki umumnya menggunakan pembenaran “sibuk mencari nafkah” bagi kebutuhan anak-anak dan istrinya. Semestinya kita bisa menyisihkan sedikit waktu yang berkualitas sesibuk apapun kita sebagai orang tua. Ajak putra dan putri kita dalam kegiatan yang sedikit menantang namun tidak membahayakan, seperti hiking, berenang di pantai, ataupun Arung Jeram yang diperuntukan bagi level pemula. Melalui acara seperti inilah sang Ayah bisa memberikan pengajaran atau membangun karakter para putra dan putrinya. Kata-kata bernada memotivasi seperti “ayo melompat, berlari, kamu pasti bisa” bisa digunakan dalam membangun kedekatan emosional antara Anda dengan putra dan putri. Dengan adanya sosok ayah disamping mereka, tentu akan menjadi pembeda dari kualitas liburan yang sedang mereka lakukan. Ketika Anda kembali berkumpul dengan keluarga, gunakanlah hari Sabtu dan Minggu sebagai hari spesial untuk anak-anak. Di tengah kesibukan Anda yang menyita waktu dan melelahkan, tetap kebersamaan dengan anak-anak dan keluarga harus menjadi perhatian.
  2. Tanamkan Rasa Mencintai dan Menghormati Kepada Sesama
    Menjadi anak lelaki yang berani tentu bukan sebuah kesalahan, yang salah jika anak kita sudah terlibat tindak bullying atau tindak kekerasan verbal maupun fisik (berkelahi). Mari, sebagai ayah kita juga wajib mengajarkan kepada putra dan putri kita bagaimana nikmatnya memiliki banyak teman dan juga dihargai oleh orang lain. Ajarkan anak kita tentang cara berbagi atau memberi kepada temannya dimulai dari bentuk sederhana, seperti berbagi makanan dengan teman-temanya. Tanamkan bahwa berkelahi dan berkata kasar bukanlah bagian dari kehidupan lelaki yang sebenarnya, karena hal itu akan membuat dirinya semakin dijauhi oleh teman-temannya. Tanamkan nilai bahwa ketika dirinya menjadi seorang pemimpin kelak, ia harus siap dan rela berkorban bagi teman-temannya.
  3. Tambahkan Nilai-nilai Luhur Agama
    Pendidkan agama menjadi bagian yang sangat penting di dalam membangun karakter anak. Belum lengkap jika pendidikan agama tidak ditanamkan sejak anak usia dini. Mengikuti kegiatan Sekolah Minggu atau juga Sabtu Ceria bisa dilakukan agar iman anak kita tumbuh dan berjalan sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut.

Yang tak kalah penting adalah walau Anda bekerja jauh di luar kota rutinitas komunikasi dengan keluarga harus tetap dilakukan, walau hanya sebentar. Cobalah untuk berbicara menggunakan kata-kata yang memotivasi dan kata-kata yang menyenangkan, manis untuk didengar oleh anak-anak. Jika ingin menegur, bicaralah dengan sehalus mungkin. Mudah bukan? Selamat melakukan.

Salam,

Broer Ivan

*Penulis adalah praktisi Pendidikan Anak Usia Dini dan pengamat bisnis

Bagi anda yang ingin berkonsultasi terkait Pendidikan Anak Usia Dini, silahkan mengirimkan email ke:

Baca Juga :  Standar Akademik Guru PAUD

broerivanluntungan@gmail.com

- Advertisement -
PenulisRedaksi
SHARE