Apa Dampak Kekerasan Verbal Bagi Psikologis Anak?

0
Broer Ivan (mengenakan jas hitam). Foto: Istimewa
- Advertisement -Best Domain & Hosting!

Broer Ivan yang kami kasihi,

Saya adalah seorang ibu yang memiliki dua orang anak. Anak pertama saya saat ini masih duduk di kelas V Sekolah Dasar dan seorang lagi masih berusia Balita. Saya bekerja sebagai karyawan swasta, dan suami saya merupakan mantan pelaut yang dan saat ini tidak bekerja. Kami menikah di usia yang relatif muda yakni ketika saya berusia 20 tahun, sedangkan suami terpaut jarak 5 tahun lebih tua dari saya. Sudah setahun terakhir ini suami saya sudah tidak lagi berlayar dan memutuskan untuk memulai usaha kecil[-kecilan. Namun usaha tesebut tidak membuahkan hasil hingga terpaksa tutup dua bulan lalu. Sejak saat itu kondisi emosi suami saya seakan berubah dan gampang marah. Tak jarang kami telibat pertengkaran mulut seputar biaya hidup kami dan anak-anak. Pertengkaran demi pertengkaran juga terjadi di depan anak-anak kami. Yang lebih membuat saya bersedih adalah turunnya prestasi anak pertama kami di sekolah. Wali Kelas di tempat anak kami bersekolah melaporkan, bahwa anak kami sering melamun, tidak percaya diri dan murung. Padahal selama ini anak pertama kami merupakan langganan juara Ketiga di kelasnya dan merupakan anak yang ceria.

Yang ingin saya tanyakan adalah:

  1. Apakah kekerasan verbal yang dilakukan oleh suami saya bisa berdampak buruk bagi kondisi psikologis anak-anak saya kelak?
  2. Kalau iya, Bagaimana cara yang bisa kami lakukan untuk mengembalikan rasa percaya dirinya?
- Advertisement -
loading...

Terima kasih.

Mona Tulong (32)- Airmadidi, Sulawesi Utara.

 

Ibu Mona Tulong di Airmadidi,

Kehidupan berumah tangga tidak selalu seperti apa yang kita bayangkan. Keadaan itu pasti akan jauh berbeda dibandingkan ketika masih berada dalam masa berpacaran. Pada masa pacaran, semua terasa begitu indah. Memasuki jenjang perkawinan, tanggung jawab yang ada pastilah merubah kita sebagai pasangan dalam ikatan rumah tangga, apa lagi setelah putra-putri yang kita dambakan lahir ke dunia.

Suami memiliki tanggung jawab terhadap kebutuhan rumah tangga, baik kebutuhan pokok atau Primer yaitu makanan, pakaian dan perumahan. Kebutuhan pelengkap yang harus dicukupi juga mencakup pendidikan, rekreasi, kesehatan, asuransi dan lainnya. Semua itu harus dapat dipenuhi oleh suami sebagai kepala rumah tangga. Namun di zaman modern seperti sekarang ini banyak juga istri yang bekerja guna membantu menopang kebutuhan rumah tangga. Menurut saya hal itu cukup baik, asalkan kedua belah pihak baik suami maupun istri saling menyetujui dan saling memahami.

Ibu Mona, apa yang Anda alami banyak juga dirasakan oleh pasangan suami istri di tempat lainnya. Keadaan yang tidak bekerja seringkali menimbulkan rasa merasa minder di dalam diri seorang suami, terutama jika dikaitkan dengan pandangan banyak orang. Di pandangan masyarakat umum misalnya, seorang suami terbiasa menghidupi keluarga. Ada pepatah mengatakan, “Lelaki sangat dihargai dan dihormati jika ia bekerja”. Sebagai seorang tulang punggung keluarga tentu akan menjadi pukulan berat bagi dirinya ketika ia hanya menjadi beban bagi keluarga karena tidak bekerja. Keadaan itu dapat menyebabkan rasa malu, bahkan kurang percaya diri.

Kata-kata Kasar

Tindakan suami berbicara kasar kepada anak-anak bisa disebabkan oleh proses komunikasi yang tidak atau belum tuntas di bicarakan. Perbuatan kekerasan verbal juga harus  dipahami bersama, bahwa perbuatan tersebut sungguh memberi dampak negatif. Sebab, kekerasan verbal pada anak anak usia dini atau Sekolah Dasar bisa mengakibatkan berbagai hal yang tidak kita inginkan kelak. Kekerasan verbal juga akan memiliki dampak yang lebih besar jika dialami oleh anak perempuan, karena anak-anak perempuan memiliki perasaan yang lebih halus atau lebih peka jika dibandingkan anak laki-laki. Berikut pelbagai dampak negatif dari kekerasan verbal terhadap anak-anak menurut pengamatan saya:

Teriakan dan makian sudah dapat dikategorikan sebagai sebuah kekerasan verbal. Anak akan mengalami kerugian psikis yang tentunya dapat menganggu proses perkembangan mereka kelak dan dampaknya bisa terbawa hingga dewasa. Kekerasan verbal terhadap anak bisa menyebabkan anak sulit meraih kepercayaan dirinya. Di lain sisi, akan terbentuk suatu pola berpikir pada anak bahwa mereka selalu salah, tidak dihargai dan dianggap dan tidak berarti di mata orangtua.

Harap menjadi perhatian Anda, walaupun kita tidak mengeluarkan kata-kata negatif akan tetapi sejumlah perilaku seperti raut muka yang tak berbelas kasih sewaktu marah, sorotan mata, mimik murka, menunjukan kepalan tangan seperti hendak meninju atau menampar, semua itu merupakan bagian dari kekerasan nonverbal. Meski tidak menimbulkan kerusakan fisik secara langsung, namun tindakan tersebut mampu ditangkap dan dicerna oleh anak-anak dengan baik. Sehingga, besar kemungkinan akan menjadi suatu tekanan batin bagi diri mereka.

Hal–hal yang Harus Menjadi Perhatian:

Ibu Mona, jangan ragu untuk mengkomunikasikan keadaan ini dengan suami Anda secara empat mata. Anda dapat membesarkan hatinya dan memberi pemahaman, bahwa menganggur hanyalah sementara waktu. Selama ia berproses untuk mendapatkan pekerjaan, ia pun dapat melaksanakan tugas yang mulia untuk bisa membimbing dan mendidik anak-anaknya di rumah. Pengalamannya sebagai seorang pelaut di masa lalu tentu banyak menyita waktu kebersamaan antara dirinya bersama dengan anak-anak Anda berdua. Gunakanlah kesempatan ini untuk memperkuat kedekatan emosional antara suami Anda dengan anak-anak.

Kedua, Anda harus bisa menghargai keadaan suami pada saat ini. Meski Anda memegang peranan sangat yang besar selaku tulang punggung keluarga, dirinya tetap membutuhkan rasa dihargai dan dihormati sebagai kepala rumah tangga.

Ketiga, bicarakan juga bersama dengan anak-anak Anda berdua. Jelaskan bahwa  saat ini sang Ayah sedang berada dalam proses untuk menjaga dan mendidik mereka. Bentuk perhatian dari hal-hal kecil mampu makin mendekatkan sang Ayah dengan anak-anak. Anda bisa mencobanya dengan meminta suami untuk mengantar anak-anak ke sekolah, ataupun menghabiskan waktu dengan makan makanan kesukaan anak-anak Anda berdua secara bersama-sama

Keempat, dalam menegur yakinkan juga suami Anda bahwa memberi teguran atau peringatan kepada anak sangatlah penting. Setiap orang tua wajib untuk menegur anak-anak mereka dengan tegas dan jelas alasannya. Hindari penggunaan kata-kata berkonotasi negatif yang berpotensi menjatuhkan ataupun melukai harga diri anak. Jangan gunakan kata ‘Bodoh’ atau ‘Pemalas’, karena dampaknya akan sangat tidak baik. Perhatikan juga, jika anak sudah di beri label negatif maka itu akan sangat melukai mereka, proses pemulihannya pun tidak sebentar.

Belum Ada Kata Terlambat

Untuk Ibu Mona dan Suami di Airmadidi, belum ada kata terlambat untuk segera memperbaiki keadaan ini.  Yang paling penting  hindari  perang kata-kata atau bertengkar di depan anak-anak. Usahakan  jika ingin menyampaikan  sesuatu pilihlah  tempat dan waktu yang tepat.

Jangan ada lagi  praktik kekerasan verbal dan nonverbal yang dilakukan baik oleh Anda maupun suami selaku orang tua. Sayangilah Kedua anak Anda dan jadilah bagian dari gemilangnya masa depan mereka kelak.

Tumbuhkan Kembali Rasa Percaya Diri Anak Melalui:

  1. Selaku orang tua berjanjilah terhadap diri Anda berdua untuk tidak mengulangi perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan terhadap anak-anak Anda. Lebih dekatkan diri Anda dan keluarga dengan sang Pencipta dan mohonlah pengampunan. Bukalah hati Anda dan Suami untuk dapat menerima Kasih Karunia dan Hikmat dari Tuhan
  2. Bicarakan kepada anak-anak bahwa “kami telah salah” karena mengucapkan kata makian, teriakan, hardikan, mimik muka sadis dan lain-lain. Bahwa itu dilakukan terlalu berlebihan dan tidak ada maksud dari orang tua untuk tidak menyayangi dan mencintai kalian. Berjanjilah bahwa mulai saat ini Anda berdua akan selalu menyayangi, menjaga dan memperhatikan mereka.
  3. Pasca kejadian kejadian tersebut, mulailah lakukan pemulihan dengan cara menunjukan lebih banyak kasih sayang kepada anak-anak. Anda dan juga suami dapat terlibat langsung dalam proses pemulihan ini. Tak ada salahnya berlibur bersama dengan anak-anak. Wahana permainan, berenang, bersepeda bersama, dapat menjadi sebuah alternatif untuk menghabiskan waktu berlibur bersama. Pada intinya, kesenangan itu  dilakukan demi mereka. Sampaikan juga bahwa Anda dan suami sangat mencintai mereka.
  4. Ketika Anda bekerja luangkan pula waktu untuk menelepon anak-anak Anda di rumah. Tunjukan perhatian kepada mereka mulai dari mengingatkan waktu makan, diskusi singkat tentang pelajaran, hingga kepedulian terhadap aktivitas yang menyenangkan mereka selama berada di sekolah.
  5. Temani mereka saat belajar ataupun saat mengikuti kegiatan ekstra kurikuler. sibukkan mereka dengan berbagai kegiatan seperti olah raga, bermain musik, atau kegiatan yang melatih kepekaan dalam berinteraksi sebagai sebuah tim, seperti halnya pramuka.
  6. Pujihlah setiap ada pencapaian yang berhasil mereka raih, sekecil apapun itu.
  7. Meningkatkan kualitas kebersamaan bersama-sama dengan segenap anggota keluarga dapat dilakukan pula melalui cara beribadah bersama.

Lakukan poin-poin di atas secara berkelanjutan dengan hati yang tulus,  semoga dalam kurun waktu yang tidak lama Anda dan keluarga dapat merasakan perubahan positifnya.

Semoga tulisan ini bisa membantu anda.

Baca Juga :  Standar Akademik Guru PAUD

Broer Ivan

*Penulis adalah praktisi Pendidikan Anak Usia Dini dan pengamat bisnis

 

Untuk anda yang ingin berkonsultasi terkait pendidikan anak usia dini, silakan email ke: broerivanluntungan@gmail.com

- Advertisement -