Pemulihan Trauma Gempa Pada Anak Usia Dini

0
Foto: Kemensos RI
- Advertisement -Best Domain & Hosting!

Salam brur Ivan, perkenalkan saya Yohana. Saya ingin bertanya mengenai apa yang keponakan saya alami. Keponakan saya itu anak berusia 3 tahun yang, dia merupakan anak yang beberapa Minggu tinggal di pengusian akibat daerahnya di Lombok terkena gempa. Setiap kali ada bunyi gemuruh atau benda yang bergoyang dia menjerit ketakutan. Saat ini dia sudah diungsikan ke rumah saya di Kauditan, Minahasa, yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana caranya, menurut brur Ivan memulihkan trauma anak usia 3 tahun yang selama beberapa Minggu tinggal di pengungsian akibat gempa?

 

Yohana, Minahasa Utara.

- Advertisement -
loading...

 

Ibu Yohana di Kauditan , sungguh mulia sekali ketika ibu boleh membantu suadara ibu yang menjadi korban gempa . Indonesia saat ini sedang berduka dan sedih oleh karena saudara-saudara kita baik di Lombok, Palu dan Donggala mengalami musibah alam yang dahsyat begitu banyak korban.

 

Anak anak di usia dini memang lebih rentan secara psikologis untuk dapat memahami fenomena alam tersebut. Di usia dini anak-anak sangat membutuhkan dunia yang ceria tempat mereka mengekspresikan dirinya lewat bermain dan bersuka ria. Dengan mengalami kejadian seperti ini tentu keponakan ibu yang baru berusia 3 tahun tersebut mengalami juga trauma pasca gempa, jangankan anak-anak, orang tua pun bisa mengalami trauma itu, terlebih jika mereka kehilangan keluarganya.

 

Ibu Yohana di Kauditan, penanganan keponakan ibu harus dilakukan secara serius , tidak bisa didiamkan begitu saja, penanganan secara serius itu menurut saya dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut;

 

  1. Harus ada pendampingan.

Anak- anak korban gempa sering  mengalami trauma yang cukup serius. Mereka menjadi ketakutan , karena pada saat gempa terjadi bumi berguncang dan rumah roboh , bahkan alat-alat dirumah semua bisa terlempar atau terbalik yg tentunya menimbulkan suara yang keras pada saat gempa itu terjadi, apalagi jika dibarengi dengan tsunami air yang datang  tiba-tiba menyeret semua orang didekatnya. Tentu kejadian itu terekam dalam memori otaknya. Untuk itu diperlukan pendampingan kepada anak yang mengalami kejadian fenomena alam tersebut (trauma healing)

Pendamping dapat dilakukan oleh orang yang paham akan anak-anak. Mempunyai kesabaran dalam mendampingi anak, memberi makan , minum yang bergizi, mengobati jika anak itu terluka , mengganti pakaian, menemani ia bermain dan sebagainya, untuk menangani akan kebutuhan anak usia dini.

 

  1. Harus dikeluarkan trauma tersebut (pasca bencana)

Bila anak menangis peluklah biarlah ia menangis panjang untuk mengeluarkan trauma atas apa yang sudah dialaminya, jika anak itu harus berteriak keras biarkanlah anak itu mengeluarkan segala isi hatinya. Dengan ia berteriak dan menangis keras serta berbicara itu sudah menjadi bagian untuk menyembuhkannya.

 

  1. Jangan buat anak itu diam.

Lakukanlah agar anak bisa tertawa dan berbicara , jangan anak itu menjadi tidak ceria, karena anak di usia dini harus selalu ceria. Ajak ia berbicara dengan cara melakukan cerita-cerita lucu, cerita dongeng anak-anak lalu adakan komunikasi 2 arah / timbal balik contohnya seperti ini “adik, tadi itu hewan apa ya yang banyak akal? Ajak dia menjadi aktif dalam berkomunikasi.

 

  1. Ajaklah bermain.

Dampingi anak bermain ditempat yang layak. Jangan ditempat yang dapat mengingatkan dia akan kejadian yang ia alami, bermainlah di taman atau tempat yang sudah dipersiapkan .Dengan bermain bisa membuat anak melupakan apa yang sudah dialaminya sehingga menyembuhkan trauma.

 

  1. Peluklah ketika ia tidur.

Dengan memeluk anak yang mengalami Trauma pasca gempa, adalah cara yg sangat efektif juga , dengan memeluk anak ketika ia tidur tentu membuat anak nyaman dan tidak menjadi takut lagi, pelukan yang erat akan sangat mendekat kan hubungan anak tersebut dengan pendampingnya

 

  1. Konsultasikan ke dokter/psikolog anak.

Jika anak dalam waktu1 Minggu belum juga berbicara atau diam saja, segera bawa ke dokter atau ke psikolog anak untuk langkah yang lebih konkret dan mendalam.

Demikian Ibu Yohana semoga penjelasan saya bisa membuat ibu menjadi pendamping yg baik untuk keponakan ibu. Doa saya menyertai keluarga ibu yang sudah mengalami kejadian bencana tersebut, kiranya cepat dipulihkan.

Brur Ivan. R. Luntungan *Penulis adalah praktisi Pendidikan Anak Usia Dini dan pengamat bisnis.

 

Bagi anda yang ingin berkonsultasi terkait Pendidikan Anak Usia Dini, silahkan mengirimkan email ke: redaksi@wartamaya.id atau broerivanluntungan@gmail.com

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here