Umat Harus Menjadi Solusi Bagi Persoalan Bangsa

0
Gembala GKRI Karmel, Pdt. Deetje Caroline Mandang, saat sesi tanya jawab dengan pewarta, Senin malam (2/10/2017). Foto: Ronald.
- Advertisement -Best Domain & Hosting!

WartaMaya.Id, Jakarta- Bangsa Indonesia merupakan sebuah bangsa yang hidup bersendikan nilai-nilai Ketuhanan. Nilai itu pula yang melekat erat di dalam keseharian umat nasrani di Indonesia, sehingga mereka dimampukan untuk mengasihi, melayani dan hidup saling tolong-menolong dengan sesama anak bangsa. Hal senada juga dirasakan oleh Pendeta Deetje Caroline Mandang. Ia berpandangan, sebagai salah satu komponen bangsa maka umat nasrani dan gereja harus memberi dampak positif bagi masyarakat di sekitarnya, termasuk ambil bagian dalam mengatasi setiap kesulitan yang melanda bangsa ini. Seperti halnya ketika terjadi bencana erupsi gunung berapi di wilayah Sumatera Utara, beberapa waktu lalu.

“Kita bisa dipakai sebagai alat untuk menjangkau jiwa-jiwa di luar. Apa yang kita miliki bisa kita (berikan) untuk membantu sesama. Seperti saat kita ke Sinabung, beberapa tahun lalu. Meski uang kita tidak banyak, tapi dari kita-kita sendiri yang mengumpulkan, kita sendiri yang membawanya ke sana, dan kita juga yang mewartakan kabar baik di sana,” ujar Pdt. Deetje saat ditemui sejumlah pewarta usai ibadah penahbisannya sebagai Pendeta, di Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Karmel, Jakarta Selatan, Senin petang (2/10/2017).

Sebelumnya, Pendeta Deetje juga berbicara seputar konsep pelayanan yang mesti dipahami oleh umat nasrani. Menurutnya, sebelum seseorang menyatakan kesediaan hati untuk menjawab panggilan di dunia pelayanan, harus didahului dengan mencontoh perilaku seorang hamba yang memiliki kerelaan untuk menjadi pelayan bagi sang tuan.

- Advertisement -
loading...

“Kita dipilih sebagai hamba, bukan bos. Kita hamba. Orang lain datang dan (jadikan) kita keset (kaki), meletakan kotorannya di atas kita, itulah hamba,” ujar Pdt. Deetje saat menyampaikan khotbah perdananya.

Selaku seorang gembala, istri dari Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga-lembaga Injili Indonesia, itu, kembali berpesan agar umat juga dapat memahami panggilan Tuhan atas diri mereka masing-masing.

“Kalau Tuhan masih memberikan kita kesempatan untuk hidup, ada waktu untuk kita hidup dan bernafas hari ini, berarti ada rencana Tuhan buat hidup kita. Saya pelayanan di mana saja. Mau diletakan di mana saja, mau kunjungan di Panti Asuhan, mau di bawah-bawah kolong jembatan, saya akan lakukan itu,” tegas Pdt. Deetje.

- Advertisement -