Antisipasi Terorisme dengan Peningkatan Kepedulian Masyarakat

0
Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, Bandung, Prof. Yanyan Mochamad Yani MAIR., Ph. D. Foto Ronald
- Advertisement -Best Domain & Hosting!

WartaMaya.Id, Jakarta Masuknya pekerja asing ke Indonesia di era ASEAN, pasca 2015, turut menciptakan iklim kerja yang kompetitif. Namun, di sisi lain pihak keamanan dalam negeri mesti bekerja keras dalam mengantisipasi segala kemungkinan gangguan keamanan yang datang dari luar, seperti halnya terorisme. Menanggapi fenomena tersebut Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, Bandung, Prof. Yanyan Mochamad Yani MAIR., Ph. D, berpendapat bahwa langkah antisipasi itu harus didukung pula dengan peningkatan rasa peduli masyarakat terhadap keadaan di sekitar mereka, khususnya bagi masyarakat perkotaan yang multikultur.

“Pertama, teroris itu kan selalu akan masuk kepada sebuah kawasan yang secara hukum dia loose (longgar). Yang Kedua, secara ekonomi dia kurang (lemah). Yang Ketiga, masyarakatnya itu yang acuh tak acuh,” kata Prof. Yanyan ketika ditemui WartaMaya usai memberikan kuliah umum “Indonesia dan ASEAN Pasca 2015” kepada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (UKI), di kampus UKI Cawang, Jakarta Timur, Rabu (13/9/2017).

Lebih lanjut Profesor Yanyan mengambil contoh sebuah wilayah di Indonesia dengan tingkat kepedulian dan toleransi masyarakatnya yang cukup tinggi, sehingga terbukti efektif dalam mencegah tindakan teror.

- Advertisement -
loading...

“Coba anda lihat, yang paling aman itu di mana? Di Bali. Di Bali kan logikanya banyak pariwisata, banyak turis. Tapi pernah tidak mendengar (peristiwa teror) di Bali, kecuali peristiwa Bom Bali? Di Bali itu antara gereja, Mesjid, kemudian Pura itu kan bersatu,” imbuhnya.

Profesor Yanyan kembali mengatakan, ditemukannya teroris asal Uyghur di Poso, Sulawesi Tengah, turut membuktikan adanya pejuang teroris asing (foreign terrorist fighters) yang masuk ke Indonesia. Menurutnya, baik Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) maupun pihak imigrasi Indonesia sama-sama memegang peranan penting dalam mencegah masuknya pejuang teroris asing tersebut.

“Ketika masuk ke port (pintu) imigrasi, itu harus ketat dulu (pengawasannya). Ketika masuk ke daerah, BNPT yang bergerak,” kata Profesor Yanyan lebih jauh.

Terkait upaya penanggulangan terorisme di akar rumput, Profesor Yanyan menjelaskan bahwa saat ini BNPT telah membentuk forum penanggulangan yang tersebar di 32 Provinsi. Keberadaan forum yang terdiri dari sejumlah unsur, ini, diharapkan dapat memberikan peringatan dini kepada masyarakat perihal bahaya terorisme di sekitar mereka.

“Di BNPT itu ada yang disebut dengan Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme (FKPT). Ada di 32 Provinsi, minus Papua sama Nusa Tenggara Timur. Nah harus diberdayakan FKPT ini. Sebab FKPT ini kalau saya lihat pendiriannya ada  berbagai unsur, ada budayawan, ekonom, politisi, ada birokrat. Sehingga masyarakat dalam menangkal teroris sejak dari bawah. Jadi namanya early warning system,” pungkasnya.

- Advertisement -