Partai Politik Sebagai Facilitating Learning

0
- Advertisement -Best Domain & Hosting!

WartaMaya.Id, – Partai politik selayaknya mengader generasi-generasi penerusnya untuk memimpin dan menyelesaikan masalah masyarakat. Namun, yang terjadi sebaliknya, partai politik justru tidak mampu menyelesaikan masalah internalnya sediri. Partai politik masih oportunistis dengan mementingkan kelompok kecilnya dibanding kepentingan rakyat secara luas.
Partai politik sebagai pilar demokrasi tidak bisa dilepaskan dari tata negara, namun harus mampu menghadirkan pendidikan, keadilan dan persatuan. Partai politik yang hanya mementingkan jabatan dan kekuasaan harus bermetamorfosis menjadi lembaga pendidikan politik bagi kadernya dan bagi masyarakat luas. Merujuk pada pengertian politik menurut Aristoteles, bahwa politik adalah usaha yang ditempuh oleh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Namun faktanya, konflik yang terjadi ini justru bertentangan dengan arti politik yang sesungguhnya.
Seperti yang dikatakan di atas, bahwa partai politik harus menjadi facilitating learning yang artinya memfasilitasi pembelajaran agar kader-kader dan masyarakat luas mengerti hakikat politik. Istilah facilitating learning sendiri diambil dari definisi teknologi pendidikan yang bisa diaplikasikan dalam partai politik. Mengerti politik yang baik, jujur, tulus, benar dan ihklas untuk bangsa dan negara. Pendidikan politik tidak boleh menghadirkan citra kekerasan, adu kuat dan “gontok-gontokan” untuk memperjuangkan bahwa dirinyalah yang paling benar.
Facilitating learning itu memberikan kesempatan kepada generasi-generasi muda untuk berkarya dalam politik, bertindak nyata dalam masyarakat, dan tidak melakukan kecurangan. Partai politik menjadi laboratorium untuk bereksperimen tentang ideologi yang diusung. Partai politik juga harus mampu mendidik kadernya agar mengenal istilah mengalah terhadap orang lain. Mengalah bukan berarti kalah, tetapi mengalah untuk mengutamakan kepentingan masyarakat. Partai politik sebagai facilitating learning juga harus memberikan pelatihan dan pembinaan terhadap kader, sehingga kader “jadi-jadian” tidak muncul yang hanya mengejar kekuasaan dengan memanfaatkan partai politik sebagai kendaraan untuk berkuasa.
Partai politik harus menyadari dirinya sebagai “model” dalam perwujudan demokrasi. Partai politik menjadi pusat perhatian masyarakat yang harus dicontoh dan diteladani dalam hal berdemokrasi. Pengurus dan pengelola partai pun harus orang yang mumpuni untuk ditiru dan dicontoh, karena setiap figur yang ada dalam partai politik menjadi “kurikulum” pendidikan politik yang terbuka untuk dibaca dan dipelajari oleh masyarakat.
Sebagai lembaga pendidikan, partai politik harus merelakan kadernya yang terpilih untuk memimpin dengan tidak melakukan intervensi apapun. Apalagi partai politik menganggap diri lebih superior, karena menganggap berhasil mendudukkan pemimpin yang lahir dari partainya, dengan mengatakan kadernya hanya sebatas “petugas partai” saja. Layaknya lembaga pendidikan yang tidak mengintervensi “lulusannya” ketika sudah bekerja, demikian juga partai politik sebagai facilitating learning. Dengan demikian kader partai yang mampu memimpin dan menduduki posisi atau jabatan tertentu tidak harus terikat dengan partai yang mengadernya selama menjabat.
Partai politik sebagai facilitating learning juga tidak mengenal istilah balas-dendam, karena kalah dalam pemilihan umum itu suatu hal yang lumrah dan harus diterima. Bukan justru melakukan maneuver-manuver politik untuk menunjukkan eksistensinya, agar mendapat posisi dan pengakuan. Sebagai facilitating learning harus mengakui kekalahan dan keberhasilan partai lainnya dan mau bekerja sama setelah selesai kompetisi pemilihan umum.
Konsep partai politik sebagai facilitating learning harus ditanamkan dalam diri partai sejak dini dan kader-kadernya, agar tradisi partai politik yang mengutamakan satu figur tertentu atau trah dapat terkikis. Sehingga, pemimpin yang muncul benar-benar hasil kaderisasi partai. Keberhasilan partai untuk memunculkan pemimpin rakyat harus dipandang sebagai keberhasilan partai juga untuk melakukan tugas dan fungsinya. Semoga partai politik sebagai facilitating learning dapat terwujud.

Ashiong Munthe. Foto: Dok. Pribadi

Ashiong Munthe.

*Penulis adalah Dosen Tetap Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pelita Harapan.

- Advertisement -
PenulisRedaksi
EditorNick Irwan
SHARE