Mengapa Harga Tiket ke Manado Mahal?

0
Ilustrasi: Istimewa
- Advertisement -Best Domain & Hosting!

Wartamaya.Id, Jakarta, (Opini)- Bagi warga Kawanua (masyarakat Sulawesi Utara)  yang  ada di perantauan, secara khusus yang ada di Ibukota DKI Jakarta, banyak yang mengeluhkan harga tiket pesawat yang lumayan merogoh kantong, setidaknya hal itu menjadi perbincangan santai saya dengan komunitas masyarakat Manado di Jakarta beberapa hari lalu. “Mo suka skali pulang lia kobong, mar nama cek harga tiket (pesawat) dapa tako no (ingin sekali mengunjungi kampung halaman untuk lihat kebun, tapi ketika dicek harga tiket (pesawat) terlalu mahal)”, gumam Ventje, salah satu warga yang berbincang dengan saya.  Biasanya tiket penerbangan Jakarta ke Manado hanya berkisar antara Rp. 700 ribu hingga 1 juta-an namun, sejak awal 2019 harga tiket penerbangan tersebut melonjak menjadi Rp. 2,8 hingga Rp. 3,5 juta untuk sekali jalan, tambahnya lagi sambil menyeruput kopi dan kue khas Manado, panada.

 

Dari perbincangan itu, saya yang juga memiliki kerinduan untuk pulang kampung halaman bertanya-tanya mengapa kemudian harga tiket ke Manado terbilang mahal? Dari perenungan tersebut, saya kemudian mencoba menggali informasi dari beberapa sumber dan kemudian mencoba menganalisa sendiri dengan kompetensi yang saya miliki.

- Advertisement -
loading...

Kenaikan harga tiket penerbangan tentu berdampak pada penurunan  penumpang pesawat yang kemudian bisa saja berimbas pada kunjungan turis lokal untuk mengenal keindahan dari bumi nyiur melambai atau sekedar mencicipi lezatnya kuliner Manado, seperti bubur Manado dan mie ikan Cakalang. Baiklah, sebelum menetes air liur dari bibir saya, membayangkan kelezatan kuliner itu, saya mencoba memaparkan temuan dari analisis saya. Pertama, saya menemukan penurunan penumpang hingga mencapai 18,5 % dibanding tahun 2018, lalu. Penurunan tersebut akibat dari kenaikan tiket pesawat yang berkisar antara 30 % hingga 50 %, hal ini tentu berimbas juga pada banyaknya hotel dan tempat wisata yang sepi pengunjung. Kenaikan harga tiket pesawat membawa multiplier effect yang cukup kelam terhadap laju roda bisnis di berbagai lokasi, tidak hanya di Manado tapi juga di wilayah lainnya.

Data yang dikutip dari laman website planestats.com, semua airline di Amerika, memberikan informasi bahwa rata-rata biaya untuk menerbangkan Boeing 737 atau Airbus A320 selama 1 jam penerbangan adalah sekitar USD 5000 (atau setara Rp 70 juta dengan asumsi 1 dollar Rp. 14.000). Dengan asumsi keterisian kursi adalah 70% atau sekitar 133 penumpang (70% dari total kursi 190 unit), maka total pendapatan dalam penerbangan 1 jam adalah Rp 133 juta. Artinya dengan biaya penerbangan 1 jam sebanyak Rp 70 juta, jika dibandingkan pendapatan yang masuk sekitar Rp 133 juta, maka masih ada sisa Rp. 63 juta per penerbangan. Jadi laba kotor pesawat setiap satu jam penebangan kira-kira sekitar Rp. 63 juta. Setiap hari, pesawat terbang minimal selama 6 jam (bisa lebih dari 6 jam jika efisien pengelolaan rutenya), sehingga total laba kotor setiap pesawat per hari adalah sekitar Rp 378 juta. Hasil laba kotor setiap unit pesawat jenis Boeing 737 atau A320 selama setahun adalah 365 hari x Rp 378 juta = Rp 137 milyar.

Dari analisa di atas, maka saya berasumsi laba kotor airline sangat bergantung pada beberapa variabel seperti, biaya oprasional tiap 1 jam (standar dunia adalah USD 5000), harga tiket pesawat tiap 1 jam penerbangan, load factor (keterisian penumpang), dan utilisasi jam penerbangan pesawat setiap harinya. Variabel pertama tergantung pada kecakapan efisiensi setiap maskapai. Standar USD 5000 adalah standar yang lazim. Mestinya maskapai di tanah air bisa lebih hemat atau tidak melebihi angka standar ini agar harga tiket pesawat tidak terlampau tinggi.

Ada pula anomali dengan harga avtur di tanah air yang malah lebih mahal sekitar 20% dibanding harga di pasaran luar negeri. Dengan harga yang lebih mahal bisa jadi rata-rata biaya operasional pesawat naik menjadi USD 6000 per satu jam penerbangan (setara Rp 84 juta). Dengan biaya operasional yang makin tinggi, maka laba kotor setiap pesawat akan menjadi makin menipis. Sedangkan variabel harga tiket dengan tingkat keterisian pesawat sejatinya sangat berkaitan, karena adanya konsep elastisitas harga. Dalam ilmu ekonomi mikro, konsep elastisitas harga menunjukkan berapa persen penurunan permintaan setiap ada kenaikan harga.

Selain asumsi saya tentang keuntungan dari maskapai penerbangan tersebut di atas, adapula beberapa faktor penting yang menurut saya mempengaruhi harga tiket pesawat terlampau tinggi. Faktor-faktor tersebut antara lain seperti infrastruktur yang berhubungan dengan fasilitas penunjang penerbangan dan kenyamanan penumpang, faktor ini dapat merangsang jumlah penerbangan dengan tujuan ke Manado, selain dari subsidi pemerintah daerah untuk maskapai penerbangan. Dengan dicanangkannya Kawasan Ekonomi Khusus di salah satu wilayah Sulawesi Utara oleh Presiden Joko Widodo beberapa bulan lalu, saya berharap sebagai Putera berdarah Minahasa, iklim ekonomi masyarakat di Sulawesi Utara dapat pula terangkat dengan memaksimalkan kebijakan tersebut. Mempercantik wilayah-wilayah yang mempunyai potensi pariwisata dan mengembangkan pendidikan yang berbasis di desa, hal ini tentu berhubungan dengan pegembangan infrastruktur yang berdampak pada masyarakat Sulawesi Utara. Pembangunan infrastruktur di wilayah Sulawesi Utara, tentu akan berimbas pada makin seringnya penerbangan ke wilayah Sulawesi Utara yang diikuti dengan kunjungan wisatawan. Semoga saja ini terwujud, amin.

Ivan. R. Luntungan berbusana daerah Minahasa. Foto: Istimewa.

 

 

 

 

 

Penulis merupakan praktisi pendidikan anak usia dini dan juga pengamat manajemen perusahaan.

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here