Kisah Orang Indonesia Yang Jadi Managing Director Di Perusahaan Australia

0
Hengki Widjaja (Director Itree, Co-Founder Accelerion, CTO/Co-Founder DaySpringCare) saat ditemui di Jakarta, Rabu (11/4). Foto: Nick
- Advertisement -Best Domain & Hosting!

WartaMaya.ID, Jakarta- Hengki merupakan seorang pengusaha muda dari Jawa Timur yang berhasil di Australia. Kuliah sambil berkerja paruh waktu di Australia ia lakoni guna hidup mandiri meringankan beban orang tuanya yang terpisah benua. Pria yang bernama lengkap Hengki Widjaja memulai karir memulai karir sebagai juniorsoftware developer di perusahaan lokal berbasis teknologi. Bersama dengan tim dan partner bisnis, ia mampu mengembangkan perusahaan itu menjadi perusahaan rekanan pemerintah Australia. Ketekunannya berbanding lurus dengan kemampuan yang tidak hanya di bidang komputer namun juga di bidang bisnis. Keberhasilannya itu kemudian menghantarkan dirinya hingga menjadi salah satu pemilik modal.

Hengki yang lahir di Indonesia sukses menjadi Managing Director dari perusahaan pembuat aplikasi pintar bernama Itree yang berkantor pusat di Wollongong, Australia. Saat ini, Hengki sedang menggarap dua perusahaan start-up baru (Accelerion dan Dayspring Care) melalui kerja sama dengan perusahaan Indonesia. Kisah suksesnya itu, tidak terlepas dari penyertaan Tuhan terhadap kehidupannya. Hengki yang pernah sekolah di SMAK Petra Surabaya kemudian menuturkan kepada WartaMaya di Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Rabu (11/04/2018).

Sejak kecil, ia sangat mengemari komputer, dari membaca buku-buku tentang komputer hingga secara langsung dipraktekan sudah dilakoninya. Hal itu demi memuaskan kegemarannya terhadap dunia komputer. Usai menyelesaikan studi di SMAK Petra Surabaya, Hengki memutuskan untuk hijrah ke negeri Kangguru, di sebuah Kota di negara bagian New South Wales, Australia, Kota bernama Wollongong yang merupakan Kota terbesar ketiga setelah Sydney dan Newcastle, Hengki tinggal. Di Kota yang terletak di sebelah Selatan Sydney itulah Hengki kuliah, tepatnya di University of Wollongong dengan mengambil konsentrasi pendidikan di bidang ilmu komputer. Sambil kuliah, ia juga bekerja, dari tukang cuci piring hingga pekerjaan kasar sudah ia jalani. Itu semua dilakukan Hengki untuk menambah pendapatan uang saku selama di Australia, “maklum jauh dari orang tua dan saya gak mau menambah beban orang tua minta duit terus,” kenang Hengki saat itu.

- Advertisement -
loading...

Usai mengenyam gelar Sarjana strata satu, Hengki memutuskan untuk meneruskan ke jenjang Magister ilmu komputer. Masih di Universitas yang sama yakni University of Wollongong, Hengki terus mengejar impiannya menyandang gelar sebagai Master of Computer Science. Kuliah sambil bekerja bukanlah hal yang mudah dijalani Hengki. Mulai membagi waktu, konsentrasi, hingga persoalan keuangan yang masih saja dirasanya kurang pada saat itu. Suatu ketika, Hengki tidak mendapatkan pekerjaan, keuangan menipis, ia hanya sanggup beli mie instan selama beberapa pekan kedepan. Hengki bekerja hanya sebagai pekerja lepas di Itree saat itu, jika diperlukan jasanya barulah Hengki mendapatkan bayaran. Dalam kegalauannya, ia menyerahkan semua ketakutan dan beban hidup kepada Tuhan. Sebagai pribadi baru di agama yang juga baru dianutnya yakni, Kristen, Hengki memohon agar diberikan petunjuk.

Baca Juga :  Implementasi Pancasila Dimulai Dari Tempat Kerja

“Saat itu saya cuma makan mie instan, mau minta dikirim orang tua saya malu. Saya cuma bisa berdoa saja pada saat itu, disaat saya lagi berdoa, telpon saya berbunyi. Saya angkat dan kemudian diujung telpon saya diajak bekerja lagi di Itree, langsung aja saya ajukan untuk dibayar dimuka hehehehe,” kata Hengki.

Hengki sendiri terlahir dari keluarga non- kristen, ia merupakan bungsu dari lima bersaudara. Perkenalan dia dengan Kekristenan dimulai sejak menimba ilmu di salah satu sekolah Kristen yang ada di Surabaya, Jawa Timur. Kakaknya sudah terlebih dahulu memeluk agama Kristen, dari kakaknya itulah ia dikirimi rekaman-rekaman khotbah dari para pendeta. Renungan demi renungan dari para pendeta itu kemudian sebagai pengantar keingintahuannya terhadap ajaran Yesus Kristus. Ia meminta kakaknya yang telah terlebih dahulu memeluk Kristen untuk membantu dia agar dapat mengerti akan Yesus.

Dari pengakuannya, pertama kali dia membaca Alkitab dimulai dari kitab Yohannes. Pembelajarannya itu, kemudian membuat Hengky semakin tertarik terhadap Kekristenan. Hengki juga bertutur, bahwa sejak lahir ia mempunyai kelainan di bagian tulang ekornya. Setiap kali membungkukan badan, ada rasa ketidak nyamanan dan terkadang nyeri. “Suatu ketika Tuhan “menantang”  untuk membungkukan badan – dan rasa nyeri di tulang ekor itu disembuhkan Tuhan,” ujar Hengki. Saat itulah mukjizat akan kebesaran Tuhan ia rasakan, rasa sakit di tulang ekornya sudah tidak terasa hingga saat ini.

Saat Hengki melayani di Illawarra prayer breakfast. Foto: Dok. Pribadi

Keyakinannya terhadap Kekristenan semakin bertambah, Hengki semakin sering membaca Alkitab hingga dia memutuskan secara mantap untuk menjadi pengikut Kristus dengan menerima sakramen baptisan. Hari-hari diisi dengan senantiasa mengucap syukur dan meminta pertolongan Tuhan. Hengki semakin religius dalam kehidupannya. Sebagai rasa syukurnya kepada Tuhan, Hengki kemudian membentuk komunitas Kekristenan di pelbagai Kota yang ada di Australia, dengan fokus pelayanan  mengedukasi tentang Kekristenan, kesaksian akan kemuliaan  Tuhan dalam kehidupan orang percaya serta pelbagai kegiatan sosial lainnya. Selain ber-bisnis, Hengki saat melayani Tuhan dengan membentuk organisasi Kristen yang membawa dampak lokal dan nasional. Ia berinisiatif dalam organisasi dan komunitas tersebut, organisasi itu seperti Illawarra Prayer Breakfast, Kingdom Culture Christian School , Australian Heart Ministries, City Women Illawarra, City Serve Wollongong dan One Heart Australia.

- Advertisement -
PenulisNick
SHARE