Kampung Penadah Hujan, Ketika Hujan Menjadi Berkah Di Jakarta

0
Suasana Kampung Penadah Hujan
- Advertisement -Best Domain & Hosting!

WartaMaya.Id, Jakarta – Musim hujan menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar warga Jakarta. Hal tersebut lantaran banjir kerap kali datang melumpuhkan ekonomi Jakarta.

Hal ini tak berlaku di kawasan perkampungan Kamal Muara. Hujan yang turun menjadi berkah dan menjadi perisitiwa yang di tunggu.

Setiap harinya 700 warga menyimpan gentong-gentong besar kapasitas 200 liter didepan dan belakang rumahnya. Gentong itu menjadi wadah kala hujan turun. Semakin turun deras, warga makin bahagia.

- Advertisement -
loading...

Setiap hujan yang di jatuh ke asbes dan genteng-genteng kemudian dialiri ke talang-talang air. Talang-talang itu kemudian masuk ke dalam gentong yang telah lebih dahulu dimasuki filter filter dan penyaring.

“Fungsi agar debu dan kotoran tak langsung masuk ke gentong,” ucap Junaedi (45), salah seorang warga RT 05/04, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Tempat tinggal Junaedi sendiri tepat kurang dari 20 meter dari tanggul yang memisahkan antara daratan dan lautan.

Menurut Junaedi menampung hujan bukan hal tabu, sejak di relokasi tahun 1998 Junaedi dan sejumlah warga suka menampung air hujan. Karena sangat berguna mencuci pakaian, mandi, hingga makan minum.

Di rumah Junaedi terdapat empat gantong kapasitas besar, dan memanfaatkan talang dari bambu air kemudian dialirkan ke gentong di depan dan belakang rumah.

“Yah kalo lagi deres, gentong kami banyak, bisa sampai 5-6 hari. Tapi kalo lagi tidak deras hanya sampai 2-3 hari,” katanya.

Sementara itu warga lainnya Hera (35) warga lainnya mengaku ketika musim hujan datang dengan intensitas tinggi, dirinya dan keluarga tak takut kehabisan air. Anak-anak tak lagi dibatasi mandi, termasuk mencuci pakaian semaunya.

Ibu dua anak ini juga memiliki tujuh gentong yang tersimpan disekeliling rumah. Namun berbda dengan rumah Junaedi yang talangnya sangat tradisional, rumah Hera terlihat lebih modern, seluruh rumah terkeliling oleh talang talang besar yang dibelinya. Talang itu kemudian menjadi aliran sebelum ke gentong.

Bila Junaedi mengandalkan serat serat bambu, talang di rumah Hera mengandalkan dari filter-filter saringan makanan. Saringan inipun ia bersihkan setiap dua minggu sekali demi memastikan air yang tertampung di gentong tetap bersih dan steril.

“Kan genteng dan asbes kerap kali kotor, airnya kemudian membawa ke gentong, dan membuat kotor,” kata Hera.

Baik Junaedi, Hera, dan Warga lainnya bukan tanpa upaya meminta air bersih ke pemerintah. Sejak dipercayai menjadi anggota dewan kelurahan (LMK), Junaedi beberapa kali meminta perusahaan air, seperti Plyja hingga PAM Jaya untuk mengaliri air bersih ke kawasan ini.

“Dulu pernah mencoba membuat sumur bor. Di bor sampai 120 meter, air ada tapi jumlah sedikit, perhitungan kami hanya 2-3 kubik air sebulan,” kata Junaedi.

Baca Juga :  GBI Klarifikasi Terkait Mundurnya Pdt. Erastus Sabdono

Beberapa upaya lain juga sempat dilakukan oleh warga, upaya pengeboran dilakukan di sebagian rumah dan mesjid. Namun tetap air yang keluar merupakan air payau dan air asin. Bila digunakan untuk mencuci akan merusak baju, mandi membuat kulit kering, dan tidak mungkin untuk makan.

Tak hanya itu, saat 2008 lalu, pihaknya sempat mendatangi Palyja meminta untuk dialirkan hingga ke sini. Namun, pihak Palyja berkilah pipa-pipa air bersih tidak bisa dipasang lantaran sumber air yang terlalu jauh.

“Tahun 2008 ke Palyja alasannya debit airnya yang enggak sampai sini. Jadi kalau lewat pipa DKI mentok sampai Tegal Alur. Alasan lainnya, pipanya terputus karena ada jalan tol, atau ada alasan investasinya terlalu panjang pengembalian modal PAM-nya,” ungkap Junaedi.

Manakala musim kemarau datang, warga kemudian membeli air dari pebisnis pebisnis air di sekitara situ. Air tersebut dihargai Rp 20 ribu pergerobak, dan air minum dihargai Rp 4 ribu per derigent kapasitas 20 liter.

“Yang gerobak digunakan untuk mandi dan cuci dan dirigent untuk makan minum,” ucapnya.

Bila ditotalkan, maka sedikitnya Rp 600-700 ribu dikeluarkan warga dalam sebulan untuk kebutuhan air bersih. Artinya Rp 420juta merupakan kalkulasi keuntungan yang didapat selama sebulan oleh para pengusaha air.

“Ngga sampai sepuluh pengusaha air disini,” ucapnya.

Meskipun menunggu hujan, namun warga disini tak takut banjir, tanggul tanggul besar setinggi 1,5-2 meter mengeliling kampung itu. Air laut akan sulit masuk kecuali rob datang.

Meski demikian, warga disini tak takut, kebanyakan rumah yang merupakan panggung. Membuat air laut tak bisa masuk hingga ke rumah warga.

Kemudian, Direktur Utama PAM Jaya, Erlan Hidayat membenarkan kondisi di kamal muara. Menurutnya tak hanya kamal muara, namun sejumlah kawasan di pinggir laut masih sulit mendapatkan air bersih.

“Tegal Alur, Cengkareng, Kamal Muara, Pegadungan, Daan Mogot dsk adalah daerah Low Supply. Artinya selain tidak cukup air nya, jaringan pipanya pun belum memadai,” ucap Erlan ketika dikonfirmasi.

Meski demikian, mengaliri air disitu, PAM Jaya tengah membangun Water Treatment Plan (WTP) di hutan kota penjaringan untuk memaksimalkan transmisi dan distribusi ke wilayah bibir pantai.

Kini pembangunan itu pun tengah dilakukan oleh Jakpro dan tengah dikebut. Ia yakin, dengan kondisi dan pembangunan maka tahun 2019 bisa difungsikan secara bertahap di tempat tempat itu.

“Jadi memang sudah diprogramkan untuk menambah air dan jaringanya,” tutupnya.

- Advertisement -